Archive for the ‘Sistem Operasi’ Category

Filed Under (Linux) by herman13 on June-17-2007

Secara default kebanyakan dari distro Linux yang ada, tidak mengaktifkan fasilitas WRITE untuk file sistem NTFS. Hal ini dilakukan agar distro yang dipergunakan tidak merusak file sistem NTFS, dimana kerusakkan pada file sistem tersebut akan mengakibatkan sistem operasi Windows menjadi tidak stabil.
Terdapat beberapa cara agar distro Linux dapat melakukan proses Write pada file sistem NTFS, yaitu

* dengan cara mengedit kernel dan mengaktifkan fasilitas Write untuk NTFS.
* dengan mengunakan tools fuse dan NTFS-3g

Kedua tools tersebut dapat didownload dari www.linuxpackages.net atau dapat didownload secara langsung dari situs masing-masing tools yaitu http://fuse.sourceforge.net/ untuk fuse dan http://www.ntfs-3g.org/ untuk ntfs-3g.

Saya asumsikan anda mendownload dari www.linuxpackages.net(pastikan depandancy dari masing-masing software) yaitu file fuse-2.6.3_2.6.17.13-i486-1McD.tgz dan ntfs-3g-1.417-i486-1McD.tgz

1. install kedua software tersebut dengan tools installpkg pada slackware.
* installpkg fuse-2.6.3_2.6.17.13-i486-1McD.tgz
* installpkg ntfs-3g-1.417-i486-1McD.tgz
2. Setelah file tersebut terinstall sekarang lakukan percobaan untuk melakukan penulisan kedalam file sistem NTFS.
* memounting partisi Windows yang berada di hda1 ke /mnt/ntfs : #ntfs-3g /dev/hda1 /mnt/ntfs
* masuk kedalam direktori tempat memounting partisi Windows tadi : #cd /mnt/ntfs
* lakukan penulisan kedalam partisi Windows: #echo “Percobaan menulis” > coba.txt
* melihat isi file hasil penulisan: #cat coba.txt
* hapus file yang telah dibuat tadi: #rm -f coba.txt
3. Sekarang distro anda telah dapat melakukan baca tulis pada file sistem NTFS.



Filed Under (Linux) by herman13 on June-17-2007

Kadang kala, tanpa sengaja kita merubah atau menambahkan sesuatu pada Sistem Operasi kita, pada saat itu terjadi perubahan yang merusak boot manager yang mengunakan Lilo.

Untuk memperbaiki lilo yang rusak adapun langkah-langkahnya adalah:

1. Siapkan cd 1 dari distro Slackware anda.
2. Boot komputer anda dengan cd tersebut seperti biasa dan login sebagai root.
3. Buat sebuah direktori. Misal : #mkdir /mnt/slackware
4. Mount partisi root anda ke direktori yang telah dibuat. Misal partisi root anda berada pada /dev/hda1 maka jalankan perintah : #mount /dev/hda1 /mnt/slackware
5. Lankukan perubahan direktori sekarang ke menjadi direktori root dari direktori yang telah dibuat dengan perintah : #chroot /mnt/slackware
6. Lalu jalankan perintah : #liloconfig
7. Install dan setting ulang lilo anda dengan tools tersebut.
8. Reboot komputer anda, dan jangan lupa mengeluarkan cd 1 dari cd rom agar tidak boot ke cd rom lagi.



Filed Under (Linux) by herman13 on June-17-2007

Umumnya source code program untuk Linux/Unix dikompres dengan sistem tar.gz atau tar.bz2. Hal ini ditujukan untuk menjaga skema kepemilikan dan permisi (permission) dari tiap file dan direktori dari source. Kita sudah mengetahui bahwa file binary executable memiliki permisi 755 secara default dan file teks memiliki permisi 644, maka source code tsb dibundel dengan kompresi tar untuk menjaga agar atribut ini tidak berubah termasuk menjaga konsistensi dari file2 link/symbolic link jika ada. Untuk lebih memadatkan file terkompresi ini digunakan kompresi gzip atau bzip2

Seperti yg telah diketahui bersama, paket instalasi program/aplikasi untuk Slackware menggunakan ekstensi .tgz secara default. Tetapi lebih baik kita coba melihat isi dari sebuah paket program/aplikasi milik Slackware. Secara garis besar sebuah paket program/aplikasi Slackware memiliki struktur seperti ini:
Code:

/install
….|-doinst.sh
….|-slack-desc
/DIR_SISTEM

Direktori install berisi file script instalasi yaitu doinst.sh dan file deskripsi/summary dari program tsb. Di dalam file doinst.sh dapat ditulis script2 post-instalasi seperti pembuatan link/symbolic link, penambahan user dalam sistem, pengubahan permisi untuk file/direktori tertentu, pokoknya semua yang bisa dilakukan dalam shell. Deskripsi dalam file slack-desc, sangat berguna untuk mencari deskripsi sebuah program karena isi file ini akan di-copy ke dalam database paket slackware yang diletakkan di direktori /var/log/packages. Direktori yang saya tulis sebagai /DIR_SISTEM merupakan tempat/lokasi direktori dimana file2 dalam paket program tsb akan di-install. Misalnya jika dalam paket a.tgz terdapat
Code:

/install
…|-doinst.sh
…|-slack-desc
/etc
…|-a.conf
/usr
…|-/bin
……..|-binary_a

maka secara mudahnya dapat dikatakan bahwa a.conf akan di-install ke dalam direktori /etc dan paket binary_a akan di-install ke dalam direktori /usr/bin. Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana membuat sebuah paket program dari source agar memiliki struktur seperti di atas.

Slackware sebenarnya sudah menyediakan utilitas untuk keperluan ini dengan menggunakan binary makepkg. Urutan pembuatan paket dengan makepkg secara mudah adalah seperti ini (misalnya source code abc.tar.gz):

1. Dekompres file abc.tar.gz dengan:
Code:
shell>tar -xvfz abc-1.0.0.tar.gz

hasilnya adalah direktori source abc-1.0.0.
2. cd ke direktori abc-1.0.0
3. Lakukan pre-instalasi konfigurasi dengan menjalankan script configure:
Code:
shell>./configure –opsi1 –opsi2

Untuk mengetahui opsi konfigurasi dari source tsb (abc-1.0.0) bisa dengan melakukan:
Code:
shell>./configure –help

Prosedur ini akan membuat Makefile sesuai dengan hasil system checking yang dilakukan script configure dari file dasar/template Makefile.in.
4. Jika tidak ada kesalahan dan Makefile terbuat dengan sukses, lakukan proses building dengan make:
Code:
shell>make

5. Jika proses no. 4 selesai tanpa kesalahan, kita mulai membuat paket program tsb, atau paket tgz-nya.

5.a. Jika file Makefile source menyertakan string informasi DESTDIR, dapat diketahui dengan melakukan:
Code:
shell>grep -n DESTDIR *

maka langkah pertama adalah membuat direktori instalasi, misalnya pkg yang letaknya terserah kita. kemudian lakukan:
Code:
shell>make -k DESTDIR=/PATH_TO_DIR/pkg install

binary yang telah terbuat pada prosedur 4 akan di-install ke dalam direktori pkg dan secara otomatis make akan membuat child directory dalam direktori pkg sesuai dengan informasi dari string DESTDIR dalam file Makefile, misalnya /usr/bin, /usr/lib, dst.
5.b. Jika file Makefile tidak memiliki string DESTDIR, maka kita harus melakukan pembuatan tree direktori secara manual, minimal kita membuat direktori prefix, misalnya /usr atau /usr/local atau yang lainnya. Jadi kita buat dulu direktori instalasi, misalnya pkg dan kemudian di dalam pkg kita buat direktori /usr atau /usr/local atau yang lainnya yang dibutuhkan oleh program yang akan di-install. Setelah itu lakukan (misalnya prefix direktorinya adalah /usr):
Code:
shell>make -k prefix=/PATH_TO_DIR/pkg/usr install

6. cd ke direktori instalasi, misal pkg.
Code:
shell> cd pkg

Periksa apakah semua binary yang diinginkan telah ter-install ke dalam direktori instalasi. Jika sudah yakin bahwa semua binary/file telah te-install sempurna maka file2 binary yang ada dalam direktori instalasi dapat di-stripping untuk menghilangkan simbol2 debugging dan dapat mengurangi ukuran file2 binary yang akan di-install. Lakukan dengan cara:
Code:

shell>strip -sv usr/bin/*

untuk libraries ada dua langkah, yang pertama untuk shared libs (file .so) dan yg kedua untuk static libs (file .a) (addition from rizzie, thanks):
Code:

shell>strip –strip-unneeded -v usr/lib/*.so
shell>strip –strip-debug -v usr/lib/*.a

strip hanya dapat men-stripping file2 binary. File teks atau lainnya akan di-ignore.
7. Buat direktori install di direktori install
Code:
shell>mkdir install

8. Buat file deskripsi slack-desc dan letakkan dalam direktori install yang telah dibuat. Contoh file slack-desc dapat dilihat di sini
Syarat slack-desc hanya satu yaitu nama paket program dalam file slack-desc harus sama dengan nama paket program sebenarnya, misalnya abc-1.0.0, maka dalam slack-desc ditulis:
Code:

|—–handy-ruler——————————————————|
abc: Program ABC
abc:
abc: Deskripsi singkat program abc

angka versi tidak perlu ditulis dalam slack-desc.
9. Setelah prosedur 8 selesai, paket dibuat dengan menggunakan makepkg di direktori instalasi (dalam kasus ini direktori pkg):
Code:
makepkg abc-1.0.0-ARCH-REV.tgz

ARCH=optimasi yang digunakan sewaktu building (prosedur 4). Lihat opsi yang diperlukan untuk membuat paket untuk arsitektur CPU dalam opsi help script configure. Biasanya string ini mengikuti tipe prosesor yang digunakan kompiler jika tidak diberikan opsi khusus, jadi isinya bisa i486, i586, i686, dst.
REV=angka ini menunjukkan urutan perubahan minor dari source code yang digunakan atau perubahan konfigurasi paket dari source code yang sama. misalnya untuk Dropline GNOME menggunakan 1dl, 2dl, 3dl, dst.
Dalam prosedur ini kita akan mendapat pertanyaan dari program makepkg, yaitu:

1. Penghilangan link/symbolic link yang ada dan membuat script untuk membuat link2 tsb sewaktu instalasi.
2. Mengubah permisi dan kepemilikan file2 dan direktori dalam paket.
Untuk no. 1 direkomendasikan agar link2 dihilangkan dan dibuat script untuk membuat link2 yang dibutuhkan sewaktu instalasi. Untuk no. 2, rekomendasinya adalah tidak mengubah apapun alias jawabannya adalah no.
Dapat pula disertakan/ditambahkan file2 konfigurasi atau lainnya ke dalam direktori instalasi misalnya menambahkan file2 dokumentasi yang biasanya diletakkan di direktori /usr/share/NAMA_PROGRAM.
10. Tunggu beberapa saat, jika tidak aa error maka paket kita, misalnya abc-1.0.0-i686-1wl.tgz terbuat dengan sempurna dan siap di-install edngan pkgtool ato installpkg:
Code:
installpkg abc-1.0.0-i686-1wl.tgz

Dengan begini proses install dan un-install paket program/aplikasi yang dibuat sendiri dari soure code menjadi mudah dan lebih aman.

Sumber : http://forum.linux.or.id/viewtopic.php?t=1210



Filed Under (Linux) by herman13 on June-17-2007

Bagi pengemar Debian, ini merupakan sebuah langkah-langkah untuk membuat bootable Flash Disk berbasis Debian.
Adapun asumsi dan langkah-langkah yang akan dilakukan adalah:

Asumsi bahwa Flash Disk tersebut berada pada /dev/sda (sesuaikan dengan lokasi dimana Flash Disk anda berada)

Pastikan Flash disk tersebut tidak terkait ke direktori manapun. Untuk melepaskan kaitan jalankan perintah:

sudo umount /dev/sda

Download boot.img.gz agar Flash Disk anda menjadi bootable

cd ~
wget ftp://ftp.debian.org/debian/dists/stable/main/installer-i386/current/images/hd-media/boot.img.gz

Extrak img tersebut ke Flash Disk anda :

sudo zcat ~/boot.img.gz > /dev/sda

Sekarang kaitkan Flash tersebut ke direktori /mnt :

sudo mount /dev/sda /mnt

Pastikan ISO-image yang didownload sama dengan image yang didownload sebelumnya.

Download ISO ke Flash Disk anda:
cd /mnt/
sudo wget http://cdimage.debian.org/debian-cd/3.1_r3/i386/iso-cd/debian-31r3-i386-netinst.iso

Setelah selesai mendownload ISO tersebut, unmount flash Disk anda:

cd ~
sudo umount /dev/sda

Sekarang Flash Disk tersebut telah siap digunakan untuk memboot computer, namun pastikan BIOS anda telah ter set untuk booting melalui USB



Filed Under (Linux) by webmaster on June-17-2007

Written by gerson
Monday, 05 February 2007

Ingin coba ubuntu dari Windows XP, tentunya anda tidak perlu repot-repot membuat partisi Linux maupun windows layaknya proses instalasi pada umumnya. UnOfficial Ubuntu Project, pada tanggal 19 Januari 2007 lalu meluncurkan ?Windows-based installer for Ubuntu?. Berawal dari keinginan membuat ubuntu lebih mudah digunakan, dan tidak beresiko untuk menginstall ubuntu pada partisi Windows yang sering digunakan oleh kebanyakan pengguna.

Jika mereka berawal dari keinginan untuk membuat mudah, lainnya dengan saya yang berkeinginan untuk mencoba project yang telah dluncurkan tersebut. Tanpa pikir panjang saya langsung menuju ke url project tersebut di alamat https://wiki.ubuntu.com/install.exe/Prototype. Pada url tersebut terdapat paparan lebih lanjut mengenai project install.exe.

Terdapat tiga pilihan untuk mendapatkan file installasi ubuntu install.exe pada url tersebut, yang pertama melalui torrent, kedua melalui instalasi online dan yang ketiga anda dapat memperoleh sumber dari file tersebut untuk dikembangkan lebih jauh.

Sebelum anda memilih, sebaiknya anda pastikan bahwa anda memiliki koneksi internet yang memadai untuk ketiga opsi diatas. Tapi anda tidak perlu khawatir, karena ketiga sumber diatas mendukung ?resume?, jadi jika download terputus anda dapat melanjutkannya lagi. Saya menggunakan koneksi internet kabel dengan bandwith 64 Kbps, dan saya memilih mendownload menggunakan torrent. Mulai download pukul 17:00 WIB sore hari, dan karena berbagai alasan download saya putus pada pukul 07:00 WIB, kemudian saya lanjutkan lagi dengan waktu yang sama. Berarti menghabiskan waktu dua hari untuk mendownload file sebesar 589 MB.

Untuk merubah waktu boot pada file boot ini, dengan cara :

klik kanan my computer

pilih properties

pilih tab advanced

pilih tombol ?setting? pada group Startup and Recovery

centang ?Time to display list of operating systems?

kemudian isi dengan angka ?5? (bisa anda ganti, 5 = 5 detik)

kemudian klik ok

restart komputer anda

Catatan :

Pada saat melakukan proses instalasi ubuntu install.exe, saya menggunakan ubuntu-instal.exe v3 yang diinstal pada komputer dengan spesifikasi sebagai berikut :

Processor : Intel P4 Dual Core 3 GHz

RAM : 1 GB

HD : Sata 200 GB

dengan tidak ada permasalahan sama sekali, hanya saja ketika saya instal pada komputer dengan spesifikasi :

Processor : Intel P4 2,4 GHz

RAM : 1 GB

HD : Ata 80 GB

ubuntu tidak dapat berjalan normal, dengan menampilkan pesan sebagai berikut :

BusyBox v1.1.3 (Debian 1:1.1.3-2ubuntu3) Built-in shell (ash)
Enter ?help? for a list of built-in commands.

/bin/sh: can?t access tty; job control turned off
( initramfs)

mencoba berbagai solusi pada website :

https://wiki.ubuntu.com/install.exe/Prototype

http://www.ubuntuforums.org/showthread.php?t=338279

belum ada solusi yang berhasil memecahkan permasalahan tersebut. (udah cape browsing gak ketemu-ketemu)

Selamat mencoba



Filed Under (Linux) by herman13 on June-17-2007

Pada saat membuat sebuah karya tulis / skripsi, persyaratan untuk font yang dipergunakan adalah
font dari sistem operasi Windows yang bernama Times New Romans. Bagi penguna Linux pasti font ini
tidak dapat ditemukan, karena font tersebut hanya tersedia di Windows dalam format TTF (True Type Font).

Namun, bagi penguna Linux, Slackware pada khususnya, tidak perlu berkecil hati,
karena Sistem Operasi Linux dapat mengunakan font dari Windows yang berformat TTF tadi.
Adapun langkah-langkahnya adalah:
1. Masuk/Login kedalam sistem sebagai root
2. Masuk/buat direktori untuk menyimpan file fonts.
Secara default direktori untuk menyimpan file TTF tersebut
dapat disimpan pada direktori /usr/X11R6/lib/X11/fonts/TTF/

3. Copy font TTF yang kita inginkan kedalam direktori fonts tadi,
namun seluruh font harus dalam huruf kecil.

for file in *.[Tt][Tt][Ff]
do
cp ${file} /usr/X11R6/lib/X11/fonts/TTF/`echo ${file} | tr [A-Z] [a-z]`
done

4. Pindah ke direktori tempat menyimpan fonts tadi. misalnya:

/usr/X11R6/lib/X11/fonts/TTF/

5. Ganti mode dari fonts tadi dengan perintah #chmod 644 *
6. Jalankan perintah dibawah sehingga anda memiliki file fonts.dir and fonts.scale pada direktori fonts tadi.

#mkfontscale
#mkfontdir

7. Seakarang harus mengedit file /etc/X11/xorg.conf untuk menambahkan path dari fonts anda:

Misal font ada berada pada direktori /usr/X11R6/lib/X11/fonts/TTF/ maka tambahkan:
FontPath “/usr/X11R6/lib/X11/fonts/TTF/”

Pada bagian:

Section “Files”
RgbPath “/usr/X11R6/lib/X11/rgb”
ModulePath “/usr/X11R6/lib/modules”
FontPath “/usr/X11R6/lib/X11/fonts/misc/”
FontPath “/usr/X11R6/lib/X11/fonts/Type1/”
FontPath “/usr/X11R6/lib/X11/fonts/CID/”
FontPath “/usr/X11R6/lib/X11/fonts/75dpi/”
FontPath “/usr/X11R6/lib/X11/fonts/100dpi/”
FontPath “/usr/X11R6/lib/X11/fonts/TTF/” <— Contoh
EndSection

8. Keluar dari XWindows lalu jalankan perintah

fc-cache /usr/X11R6/lib/X11/fonts/TTF

(Jika anda mengunakan KDE versi 3.5 keatas tidak perlu dilakukan).

9. Start XWindows anda, dan fonts tersebut telah dapat dipergunakan.



Filed Under (Linux) by herman13 on June-17-2007

Dalam keseharian, banyak pekerjaan yang harus dilakukan pada waktu tertentu dengan Linux Box kita, sebagai contoh membackup database, memeriksa sistem yang down dan menghidupkan kembali. Dalam keseharian, banyak pekerjaan yang harus dilakukan pada waktu tertentu dengan Linux Box kita, sebagai contoh membackup database, memeriksa sistem yang down dan menghidupkan kembali.

Pada suatu saat kita mendapatkan undangan yang sangat penting, sehingga kita tidak dapat melaksanakan proses/pekerjaan yang telah terjadwalkan pada saat tersebut. Sehingga, perkerjaan kita terabaikan, dan sistem kita akan terancam jika kita tidak melaksanakan pekerjaan tersebut.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini dapat kita mengunakan aplikasi bawaan dari Linux yaitu cron. Adapun program cron akan memanggil sepecial file yang disebut dengan crontab. Dimana didalam crontab ini berisikan jadwal-jadwal dan perintah-perintah yang harus dilaksanakan.

Namun seorang user akan dapat menjalankan proses penjadwalan jika beberapa kreteria telah terpenuhi yaitu:

* Nama user tercantum di dalam file cron.allow

* Nama user tidak tercantum di dalam file cron.deny

* File cron.deny ada, namun didalamnnya kosong.

* Kedua file tersebut tidak ada, maka seluruh user dapat menggunakan proses cron.

Perintah-perintah pada cron:
crontab -e Untuk mengedit file crontab, atau membuatnya jika belum ada.
crontab -l Menampilkan isi dari file crontab
crontab -r Menghapus file crontab
crontab -v Menampilkan kapan terakhir kalinya kamu mengedit file crontab tersebut

Format yang diisikan didalam file crontab:

* * * * *
- - - - -
| | | | |
| | | | +—– day of week (1 - 7) (monday = 1)
| | | +——- month (1 - 12)
| | +——— day of month (1 - 31)
| +———– hour (0 - 23)
+————- min (0 - 59)

Contoh perintah:

30 18 * * * /home/username/backup.sh
“Setiap jam 18.30 menjalankan script backup.sh yang berada /home/username/”

30 3 1 * * /home/usename/backup.sh
“Menjalankan script backup.sh pada pukul 3:30 a.m Setiap tanggal1″

30 0 1 1,6,12 * /home/usename/backup.sh
“Menjalankan script backup.sh aetiap jam 00.30 setiap tanggal 1 Januari, 1 Juni, dan 1 Desember”

0 20 * 10 1-5 /home/usename/backup.sh
“Setiap hari Senin-Jumat pada jam 20.00 hanya di bulan Oktober”

0 0 1,10,15 * * /home/usename/backup.sh
“Setiap jam 00.00 pada tanggal 1, 10, dan 15 tiap bulannya”

5,10 0 10 * 1 /home/usename/backup.sh
“Menjalankan script backup.sh setiap jam 12.05 dan 12.10 setiap hari Senin di tanggal 10 setiap bulannya”

30 3 5,10,15 * * /home/username/backup.sh
“Menjalankan script backup.sh pada pukul 3:30 a.m Setiap tanggal 5,10,15

30 3 1-7 * * /home/username/backup.sh
“Menjalankan script backup.sh pada pukul 3:30 a.m selama 1 minggu pertama (tgl 1-7)”

*/6 * * * * /home/username/backup.sh
“Menjalankan script backup.sh setiap 6 menit”

Demikian artikel ini saya tulis, semoga dapat berguna bagi anda.



Filed Under (Linux) by herman13 on June-17-2007

Untuk membuat sebuah sistem uptodate dan bebas dari bug, maka kita harus rajin melakukan pemeriksaan versi dari perangkat lunak yang terpasang pada sistem kita, dan melakukan pencarian untuk versi terbaru dari perangkat lunak tersebut. Namun, hal ini akan cukup menyulitkan karena kita harus mencari dan membandingkan setiap versi perangkat lunak yang terpasang.

Pada distro Fedora telah terdapat perangkat lunak untuk melakukan pengupdatean secara otomatis (yang disebut dengan YUM). Bagi penguna distro Slackware aplikasi ini tidak dapat digunakan, namun, jangan berkecil hati, karena pada distro Slackware terdapat beberapa tools untuk melakukan auto update untuk perangkat lunak yang terinstall, seperti misalnya slapt-get dan slackupdate.

Kedua perangkat lunak tersebut sangat mudah digunakan, namun saya akan membahas mengenai tools yang bernama slackupdate. Adapun langkah-langkah pengunaannya adalah:

1. Pastikan anda memiliki internet koneksi untuk melakukan update distro anda.
2. Download slackupdate dari www.linuxpackages.net (versi terakhir adalah 0.7.1 dan dibuat untuk Slackware versi 10.2 dan dapat digunakan pada versi Slackware terbaru)
3. Install package tersebut dengan intalasi tools dari Slackware ?installpkg?
4. Setelah tools tersebut terinstall maka telah dapat digunakan secara langsung yaitu dengan mengetikkan perintah slackupdate.sh
5. Maka tools tersebut secara otomatis akan melakukan pemeriksaan software yang terintall dan mendownload file update yang tersedia(akan secara otomatis menyesuaikan dengan versi Slackware yang dipakai)
6. File yang didownload tidak akan secara otomatis terinstall oleh script ini namun file yang didownload tadi akan tersimpan pada direktori /tmp/slackupdate (pastikan direktori tersebut diset write untuk user yang menjalankan script slackupdate.sh)
7. Setelah file update telah terdownload semua, maka masuk ke direktori /tmp/slackupdate dan lakukan upgrade packet dengan tools upgradepkg.

Agar lebih otomatis, perintah tersebut dapat dijalankan dengan mengunakan cronjob.
Semoga dapat berguna.

Catatan:

slackupdate dapat dikustom dengan kunci tambahan seperti:

-l (0|1|2) level pelaksanaan, (0 - check | 1 - Download | 2 - Automatic)

-nc mematikan warna

-np mematikan pasif transfer

-o (/dir) direktori penempatan file sesuai dengan keinginan [-o /home/user]

-pr Melakukan download dengan mengunakan prozilla bukan wget

-r Mendownload ulang(tidak akan mendownload ulang jika update telah didownload).

-t (/dir) Direktori sementara [-t /tmp/slackupdate]

-s (server) Server yang ingin digunakan sebagai sumber file update [-s ftp://ftp.slackware.com/pub/slackware]

-h Help